Pentingnya Pemeriksaan HbA1c Secara Rutin Jika Risiko Diabetes Tinggi

  • 19

Diabetes melitus adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah dan berisiko menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, dan stroke. Prevalensinya terus meningkat secara global, dengan lebih dari 463 juta orang terdiagnosis pada tahun 2019, dan diperkirakan akan mencapai hampir 578 juta pada 20301.

Apa Itu HbA1c?

Salah satu metode utama untuk mendiagnosis dan memantau diabetes adalah pemeriksaan HbA1c, yang mulai digunakan pada tahun 2010 oleh American Diabetes Association (ADA) sebagai kriteria diagnosis diabetes. HbA1c merupakan bentuk hemoglobin yang terikat glukosa, dan kadar yang tinggi menunjukkan kontrol gula darah yang buruk, serta meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang1.

Nilai HbA1c > 6,5% telah ditetapkan untuk diagnosis diabetes sedangkan nilai HbA1c antara 5,7% hingga 6,4% mengindikasikan risiko tinggi untuk menjadi diabetes. Oleh karena itu, penting bagi individu dengan risiko tinggi diabetes untuk menjalani pemeriksaan HbA1c secara rutin guna mencegah perkembangan penyakit dan mengelola kadar gula dengan lebih baik1.

Pedoman yang diterbitkan oleh PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) pada tahun 2024 mengenai kadar tes laboratorium darah untuk diagnosis diabetes dan prediabetes, kadar HbA1c lebih dari 6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi dapat menjadi penegakan diagnosis diabetes melitus2.

Mengapa Pemeriksaan HbA1c Penting untuk Risiko Tinggi?

Pemeriksaan HbA1c sangat penting untuk individu dengan risiko tinggi diabetes karena HbA1c memberikan gambaran rata-rata kadar glukosa darah dalam 2-3 bulan terakhir, sehingga dapat mengungkapkan apakah seseorang memiliki kontrol gula darah yang baik atau buruk dalam jangka waktu yang lebih panjang2,3.

Individu yang memiliki riwayat keluarga diabetes, obesitas, atau gaya hidup tidak sehat, pemeriksaan ini membantu mendeteksi masalah gula darah yang mungkin belum terlihat melalui tes gula darah biasa. Hasil HbA1c yang tinggi menandakan kontrol gula darah yang buruk, yang meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang, seperti gangguan pada mata, ginjal, dan jantung. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin HbA1c membantu dalam pengelolaan diabetes secara lebih efektif dan mencegah perkembangan penyakit2,3.

Kapan Harus Diperiksa HbA1c?

Berikut adalah beberapa kondisi atau situasi yang dapat menunjukkan kapan seseorang perlu diperiksa HbA1c3:

·         Pemeriksaan untuk diagnosis diabetes melitus.

·         Pemantauan pasien yang sudah didiagnosis diabetes.

·         Pemeriksaan rutin pada individu dengan risiko tinggi.

·         Individu dengan gejala diabetes (seperti sering buang air kecil, sering merasa lapar, sering merasa haus).

·         Pasien dengan gangguan kesehatan lain yang terkait diabetes.

·         Pemantauan untuk kehamilan (diabetes gestasional).

Bagaimana Prosedur dan Hasil Pemeriksaan HbA1c?

Pemeriksaan HbA1c dilakukan dengan cara yang hampir sama seperti tes darah biasa. Darah akan diambil dari pembuluh darah di lengan menggunakan jarum, kemudian sampel darah diuji di laboratorium. Hasil tes biasanya bisa didapatkan dalam waktu sekitar satu jam3.

Hasil pemeriksaan akan ditampilkan dalam bentuk persentase, yang menunjukkan kondisi berikut3:

·         Normal: HbA1c di bawah 5,7%

·         Prediabetes: HbA1c antara 5,7% – 6,4%

·         Diabetes: HbA1c 6,5% atau lebih

Semakin tinggi angka HbA1c, semakin banyak hemoglobin yang terikat dengan gula darah, yang menunjukkan kadar gula darah yang tinggi. Jika angka HbA1c melebihi 8%, ini bisa menandakan bahwa diabetes tidak terkontrol dengan baik dan ada risiko komplikasi3.

Rekomendasi Pemeriksaan HbA1c

Hemoglobin A1c (HbA1c) merupakan indikator yang sangat penting dalam diagnosis dan manajemen diabetes mellitus karena memberikan gambaran rata-rata gula darah selama 2-3 bulan terakhir. Hal ini menjadikannya lebih unggul dibandingkan pengukuran gula darah harian, serta memiliki korelasi yang baik dengan risiko komplikasi jangka panjang1.

Beberapa metode pemeriksaan HbA1c yang telah diakui secara internasional, seperti immunoassay, ion-exchange HPLC, boronate affinity chromatography, metode enzimatik, dan capillary electrophoresis, dapat dipilih berdasarkan karakteristik populasi pasien dan biaya. Metode immunoassay dan HPLC merupakan yang paling banyak digunakan karena memiliki akurasi dan keandalan yang tinggi dalam memberikan hasil yang konsisten dan tepat1.

Tindakan yang Dapat Diambil Berdasarkan Hasil HbA1c

Berdasarkan hasil pemeriksaan HbA1c, berbagai tindakan dapat diambil untuk mengelola atau mencegah perkembangan diabetes:

1. Jika hasil HbA1c normal (di bawah 5,7%):

Tidak perlu tindakan khusus, tetapi penting untuk menjaga gaya hidup sehat. Ini termasuk makan dengan pola yang seimbang, rutin berolahraga, dan menjaga berat badan ideal agar gula darah tetap terjaga dan tidak meningkat di masa depan2,3.

2.Jika hasil HbA1c menunjukkan prediabetes (antara 5,7% hingga 6,4%):

Lakukan perubahan gaya hidup, seperti mengurangi asupan kalori, lebih banyak bergerak (minimal 150 menit per minggu), dan menurunkan berat badan sekitar 5-7%. Ini penting agar tidak berkembang menjadi diabetes tipe 2. Pemeriksaan HbA1c perlu dilakukan setiap 6 bulan untuk memastikan gula darah tetap terkendali2,3.

3. Jika hasil HbA1c menunjukkan diabetes (6,5% atau lebih)

Lakukan perubahan gaya hidup yang lebih ketat, seperti mengikuti diet sehat dan rajin berolahraga. Jika perlu, dokter bisa meresepkan obat seperti metformin untuk membantu mengontrol gula darah. Pemeriksaan HbA1c perlu dilakukan setiap 3 bulan untuk memastikan pengobatan berjalan efektif dan menghindari komplikasi jangka panjang. Jika kadar HbA1c lebih dari 8%, segera lakukan evaluasi dan pertimbangkan penyesuaian terapi agar komplikasi bisa dicegah2,3.

Referensi

  • 1. Harahap RIM, Rostini T, Suraya N. Pemeriksaan Laboratorium pada Hemoglobin Terglikasi (HbA1C): Review Standarisasi dan Implementasi Klinis. Action Res Liter. 2024;8(6):1-10.
  • 2. PERKENI. Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2024. Jakarta: Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2024.
  • 3. Kristiani L. Pentingnya Pemeriksaan HbA1C. Rumah Sakit Ortopedi Soeharso Surakarta. 2025. Tersedia dari: https://rso.go.id/pentingnya-pemeriksaan-hba1c